Pasca-Bencana Aceh Tengah: Pengungsi Dibayangi Ancaman Hipertensi Akibat Trauma
Dipublikasikan 04 Feb 2026
|
Diperbarui 2 bulan yang lalu
TAKENGON – Kondisi kesehatan warga di posko pengungsian pascabencana longsor dan banjir di Aceh Tengah kini dalam fase mengkhawatirkan. Tim Medis Badan Reaksi Cepat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Baret ICMI) menemukan mayoritas pengungsi dewasa hingga lansia mengalami lonjakan tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Ketua Tim Medis Baret ICMI Aceh Tengah, dr. Fitri Fatimah, mengungkapkan bahwa temuan ini didapat setelah serangkaian pemeriksaan kesehatan intensif di sejumlah posko pengungsian.
Faktor Psikologis Jadi Pemicu Utama
Menurut dr. Fitri, hipertensi yang menyerang para pengungsi bukan sekadar faktor usia, melainkan dipicu oleh beban psikologis yang berat pascabencana.
“Faktor utama meningkatnya tekanan darah adalah stres dan trauma akibat kekhawatiran akan longsor dan banjir susulan. Hipertensi sering tidak menunjukkan gejala jelas, sehingga banyak penderita tidak menyadarinya,” ujar dr. Fitri Fatimah, Jumat (9/1).
Kerusakan rumah yang parah serta ketidakpastian masa depan tempat tinggal menjadi beban pikiran yang berdampak langsung pada kondisi fisik warga.
Kebutuhan Fasilitas Layak di Pengungsian
Pengendalian tensi darah di situasi darurat memerlukan intervensi lingkungan yang sehat. Baret ICMI menekankan bahwa obat-obatan saja tidak cukup tanpa didukung fasilitas dasar yang memadai.
Beberapa poin krusial yang dibutuhkan pengungsi saat ini antara lain:
- Akses Air Bersih: Menjaga sanitasi dan kebutuhan hidrasi.
- Hunian Sehat: Tempat tinggal yang bersih dan sirkulasi udara yang baik.
- Nutrisi Seimbang: Makanan yang kaya sayur dan buah untuk menekan risiko komplikasi penyakit.
Mendesak Solusi dari Pemerintah
Baret ICMI Aceh Tengah juga memberikan peringatan kepada pemerintah setempat bahwa posko pengungsian bukan tempat yang ideal untuk dihuni dalam jangka panjang. Kondisi yang serba terbatas dapat memperburuk keadaan kelompok rentan seperti ibu hamil, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.
Menembus Wilayah Terisolir
Meski medan masih sulit, tim medis Baret ICMI terus bergerak melakukan jemput bola. Saat ini, tim telah berhasil menembus wilayah terisolir di Kecamatan Linge untuk memberikan layanan medis darurat.
"Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat layanan kesehatan agar masyarakat terdampak di seluruh pelosok Aceh Tengah mendapatkan penanganan yang setara," tutup dr. Fitri.